Lawan Stunting dengan Data: Mahasiswa KKN Rancang Sistem Tracking Penyuluhan Terintegrasi di Desa Plesan

Plesan, Agustus 2026 — Penanganan stunting tak lagi cukup mengandalkan penyuluhan yang berjalan sporadis tanpa data pendukung. Berangkat dari keresahan itu, Nabila Putri Wardhana, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi S1 Administrasi Publik angkatan 2023, menginisiasi Forum Group Discussion (FGD) bertajuk penyusunan buku panduan dan sistem tracking penyuluhan stunting di Desa Plesan, menghadirkan perangkat desa, bidan desa, dan kader posyandu dalam satu meja diskusi.

FGD ini bukan sekadar ajang tukar pikiran. Ia dirancang sebagai titik awal lahirnya sebuah sistem monitoring penyuluhan stunting yang terotomatisasi, dibangun di atas platform Google Spreadsheet, sekaligus dilengkapi buku panduan penggunaannya agar dapat terus dipakai jauh setelah program KKN berakhir.

Satu Mahasiswa, Tiga Peran

Dalam pelaksanaannya, seluruh proses, mulai dari konsep, eksekusi, hingga memandu jalannya forum, dipegang oleh Nabila Putri Wardhana, yang berperan sekaligus sebagai conceptor, executor, dan moderator FGD. Peran rangkap ini memastikan gagasan sistem tracking yang diusung benar-benar dipahami secara utuh oleh seluruh pemangku kepentingan yang hadir, sejak dari akar masalah di lapangan hingga solusi teknis yang ditawarkan.

“Penyuluhan stunting selama ini banyak dilakukan, tapi datanya berserakan. Siapa yang sudah dapat penyuluhan, materi apa yang sudah disampaikan, desa mana yang paling butuh intervensi, semua itu sering kali hanya tersimpan di ingatan atau catatan manual yang sulit direkap,” demikian gambaran persoalan yang menjadi latar belakang lahirnya inisiatif ini.

Dua Wajah, Satu Sistem: Digital dan Manual

Yang membuat sistem ini menarik adalah pendekatannya yang dua arah. Untuk perangkat desa dan bidan desa, tersedia dashboard digital berbasis Google Spreadsheet yang terotomatisasi sehingga mampu merekap kebutuhan penyuluhan, memonitor jadwal dan capaian kegiatan, hingga menyajikan data secara real-time tanpa perlu rekap manual berlapis-lapis.

Namun, mengingat tidak semua kader posyandu terbiasa dengan perangkat digital, sistem ini juga dilengkapi versi manual berbentuk formulir cetak yang dapat langsung diisi oleh ibu-ibu kader di lapangan. Data dari formulir manual inilah yang kemudian diinput ke dalam sistem digital, sehingga tidak ada kader yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses teknologi.

Pendekatan hybrid ini mencerminkan kesadaran bahwa transformasi digital di tingkat desa tidak bisa dipaksakan secara seragam  dan ia harus disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas penggunanya.

Menuju Penyuluhan yang Berbasis Bukti

Output akhir dari sistem ini bukan sekadar rekap angka. Harapannya, data yang terkumpul dapat menjadi dasar bagi perangkat desa dan pemerintah desa dalam mengoptimalkan strategi penyuluhan stunting, menyasar wilayah dan kelompok sasaran yang benar-benar membutuhkan intervensi, alih-alih penyuluhan yang bersifat pukul rata.

Dengan kata lain, program ini mendorong lahirnya evidence-based intervention di tingkat desa: setiap kebijakan dan langkah penyuluhan didasarkan pada data yang terverifikasi, bukan asumsi maupun kebiasaan lama.

Bekal untuk Keberlanjutan

Agar manfaat sistem ini tidak berhenti ketika masa KKN usai, seluruh proses pembangunan sistem didokumentasikan dalam sebuah buku panduan yang disusun bersama peserta FGD. Buku ini dirancang agar perangkat desa dan kader dapat mengoperasikan serta merawat sistem secara mandiri, menjadikan FGD ini bukan sekadar seremoni akhir program, melainkan fondasi bagi keberlanjutan penanganan stunting berbasis data di Desa Plesan.